Obat Leukemia

Leukimia merupakan salah satu jenis kanker yang menyerang sumsum tulang dan jaringan getah bening, serta mengakibatkan terbentuk sel-sel baru secara terus menerus meskipun tubuh tidak membutuhkannya dan sel-sel lama tidak mati seperti seharusnya. Pada penyakit ini sel yang dihasilkan sumsum tulang adalah sel darah putih yang sangat banyak sehingga mendesak atau progresif pada sel-sel lain

Secara umum leukemia dibagi menjadi 2, yaitu Leukemia Granulositik Kronik (LGK) dan Leukemia Akut.

LGK atau yang disebut juga Chronic Myeloid Leukimia (CML) disebabkan ketidaknormalan gen kromosom akibat perpindahan kromosom 9 dan 22, hal ini menyebabkan penggabungan tidak normal antara gen bcr dan abl, dan menghasilkan jenis protein aktif tyrosine kinase yang tidak normal. Kasus ini telah diderita oleh 250 pasien di seluruh Indonesia tetapi separuh dari jumlah tersebut berada di Jakarta. (mungkin pengaruh polusi dan pola hidup kota Jakarta kali ya)

Pada CML, ada 3 fase; kronik, akselerasi, krisis blast (akut). Pada fase kronik leukosit akan berada pada range 50.000-1.000.000, kemudian akselerasi, dan menuju ke krisis blast. Tanpa penanganan yang tepat, fase kronik akan bertahan sekitar 2-4 tahun, kemudian akselerasi denga jangka waktu singkat, dan fase krisis blast bisa dalam hitungan bulan atau 1-2 tahun. Kira2 peluang hidup untuk total 3 fase ini adalah 4-6 tahun. Kalau dengan penanganan mungkin bisa lebih panjang atau bahkan sembuh.

Dalam penanganan kasus CML, imatinib atau gleevec merupakan satu-satunya terapi yang disetujui untuk digunakan oleh pasien yang didiagnosa menderita Ph+ CML dan berada dalam fase kronis setelah gagal menggunakan terapi interferon-alpha atau pada fase akselerasi atau krisis blast. Terapi ini juga direkomendasikan pada tatalaksana terapi standar internasional, ELNET (Europe Leukimia Network) dan NCCN (National Comprehensive Cancer Network) 2007 Clinical Practice Guidelines USA.

Untuk pengobatan awal si sebenarnya bisa menggunakan hydrea untuk menghancurkan leukosit. Hydrea ini akan menurunkan kadar leukosit tapi memiliki efek samping asam urat meningkat (tinggal minum alupurinol koq buat netralin). Tapi kemudian Gleevec adalah obat yang dianjurkan karena cara kerja obat ini langsung ke kromosom untuk menghambat diproduksinya enzim tyrosine kinase.

Keberhasilan obat imatinib (gleevec) untuk penanganan CML berdasarkan hasil uji klinis IRIS (International Randomized Interferon versus ST1571) selama 60 bulan, sebagai berikut: tingkat keberhasilan sebanyak 83% setelah penanganan selama 60 bulan; termasuk tidak adanya kematian selama perawatan, perjalanan penyakit ke fase akselerasi dan krisis blast, tidak ada respon hematologis dan sitogenetis, ataupun penambahan sel darah putih. Serta tingkat keberhasilan tidak adanya perburukan penyakit hingga 93% selama perawatan 60 bulan.

Kita ga tahu seampuh apakah gleevec itu, karena pada intinya kromosom yang telah bergabung tidak terpisah lagi. Tapi ada banyak kasus dimana kromosom itu terpisah sendiri seiring berjalannya waktu dengan konsumsi gleevec. Tapi seandainya kromosom tersebut terpisah kembali dan terlihat normal saat BMP, jangan kemudian konsumsi gleevec dihentikan, karena kita tidak tahu kapan kromosom akan abnormal lagi dan jika saat itu tiba dan kita memulai konsumsi gleevec lagi, maka ada kemungkinan reaksi tubuh kita terhadap obat itu akan berkurang (ga ampuh lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: